Kolaborasi dengan Eurasia Foundation, Pascasarjana UIN SAIZU Angkat Kearifan Lokal dalam Pendidikan Multikultural

Purwokerto, Pascasarjana UIN SAIZU Purwokerto memperluas jejaring akademik internasional melalui kolaborasi dengan Eurasia Foundation (from Asia), Jepang. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan rangkaian Public Lecture yang mengangkat isu multikulturalisme, literasi keagamaan, pendidikan inklusif, dan kearifan lokal.

Program ini dirancang dalam beberapa seri yang berlangsung mulai September 2026 hingga Januari 2027. Seluruh rangkaian kegiatan memperoleh dukungan pendanaan dari Eurasia Foundation (from Asia). Pascasarjana UIN SAIZU tercatat sebagai PTKIN pertama yang mendapatkan dukungan pendanaan dari lembaga yang berbasis di Jepang tersebut.

Salah satu rangkaian Public Lecture diselenggarakan pada Sabtu, 19 September 2026, pukul 09.00–12.00 WIB di Ruang Ujian Doktor Pascasarjana UIN SAIZU. Kegiatan ini menghadirkan Direktur Pascasarjana UIN SAIZU, Prof. Dr. H. Moh. Roqib, M.Ag., sebagai narasumber dan Prof. Dr. Hj. Khusnul Khotimah, M.Ag. sebagai moderator. Sebanyak 100 peserta dari kalangan mahasiswa dan dosen mengikuti kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Prof. Roqib menyampaikan materi bertajuk “Gender-Inclusive Islamic Education and Cultural Harmonization: Promoting Religious Literacy in Multicultural Javanese Traditions for Asian Global Relations.”

Prof. Roqib menyoroti pentingnya revitalisasi budaya Jawa, terutama budaya Penginyongan, sebagai salah satu fondasi pengembangan pendidikan multikultural. Kearifan lokal, menurutnya, tidak semestinya berhenti sebagai identitas atau peninggalan budaya, tetapi perlu dihidupkan kembali sebagai sumber nilai dalam membentuk cara pandang yang inklusif terhadap keberagaman.

“Kearifan lokal sebagai pedagogi multikultural berpijak pada tepa slira (perspective taking), gotong royong, musyawarah, dan memayu hayuning bawana yang mencakup tanggung jawab sosial, perdamaian, lingkungan, serta keberlanjutan,” ujar Prof. Roqib.

Nilai tepa slira mendorong seseorang untuk mampu melihat persoalan dari sudut pandang orang lain sekaligus menghormati perbedaan. Gotong royong membangun kesadaran mengenai pentingnya solidaritas dan kerja bersama, sedangkan musyawarah menyediakan ruang dialog dalam menghadapi perbedaan. Adapun memayu hayuning bawana menegaskan tanggung jawab manusia untuk menciptakan kehidupan yang harmonis, damai, berkelanjutan, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam kerangka tersebut, budaya Penginyongan dapat ditempatkan lebih dari sekadar identitas masyarakat lokal. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berpotensi menjadi sumber pedagogis untuk memperkuat pendidikan Islam yang inklusif sekaligus membangun kemampuan masyarakat dalam hidup bersama di tengah perbedaan agama, budaya, gender, dan latar belakang sosial.

Public Lecture ini juga menjadi bagian dari langkah Pascasarjana UIN SAIZU untuk mempertemukan kekayaan tradisi lokal dengan diskursus akademik pada tingkat Asia dan global. Kearifan yang tumbuh di tengah masyarakat dapat dikaji, dikembangkan, dan didialogkan dengan berbagai persoalan kontemporer, mulai dari multikulturalisme dan literasi keagamaan hingga perdamaian dan keberlanjutan.

Melalui rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga Januari 2027 tersebut, Pascasarjana UIN SAIZU berupaya memperkuat budaya akademik sekaligus memperluas jejaring internasional. Kolaborasi dengan Eurasia Foundation (from Asia) diharapkan membuka semakin banyak ruang pertukaran pengetahuan yang mempertemukan kajian keislaman, kebudayaan lokal, dan dinamika masyarakat global.

Leave a Reply