Banjarnegara, Jawa Tengah – Desa Mertasari, Kecamatan Purwanegara, kini memanfaatkan potensi lahan alpukat seluas 3 hektar untuk mendorong pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui inovasi kuliner. Workshop pengolahan alpukat menjadi brownies lumer yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dan membuka peluang ekonomi baru.
Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Mertasari pada Senin, 29 Juli 2024, dengan melibatkan 30 peserta dari pelaku UMKM dan ibu-ibu rumah tangga. Kepala Desa Mertasari, Sudono Susanto, menegaskan, “Melalui pemanfaatan lahan alpukat ini, masyarakat dapat mengembangkan produk unggulan yang memiliki nilai jual tinggi, sekaligus mendorong ekonomi lokal secara berkelanjutan.”
Workshop ini menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dengan lima tahap, yaitu discovery, dream, design, define, dan destiny. Melalui metode ini, mahasiswa KKN dan masyarakat bekerja sama untuk mengidentifikasi aset lokal, merancang inovasi produk, dan mengimplementasikan ide tersebut secara praktis.
Menurut Kholid Mawardi, salah satu fasilitator, “Dengan memanfaatkan aset lokal yang ada, seperti lahan alpukat, UMKM desa dapat berkembang secara signifikan. Kolaborasi aktif komunitas menjadi kunci keberhasilan transformasi ini.”
Selama workshop, peserta belajar mengolah alpukat menjadi brownies lumer dengan memperhatikan kualitas, rasa, dan teknik pemasaran. “Kegiatan ini tidak hanya menambah keterampilan warga dalam mengolah alpukat, tetapi juga membuka peluang usaha rumahan yang berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga,” jelas Mar’atu Sholihah, pendamping kegiatan.
Sebelum workshop, tim KKN melakukan wawancara dan survei lapangan, termasuk pengamatan langsung kebun alpukat dan diskusi dengan masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa meski lahan alpukat melimpah, masyarakat desa sebelumnya hanya menggunakan buah untuk konsumsi sehari-hari dan belum dimanfaatkan sebagai produk bernilai tambah.
Brownies alpukat menjadi solusi strategis karena kombinasi rasa lezat, nutrisi tinggi, dan nilai jual yang menarik pasar lokal maupun online. Tika Nur Fadillah, fasilitator lain, menambahkan, “Inovasi produk ini mendorong warga untuk kreatif dan mandiri, serta meningkatkan daya saing UMKM desa melalui pemasaran digital dan e-commerce.”
Workshop juga membekali peserta dengan pengetahuan tentang strategi pemasaran dan digital marketing, sehingga produk brownies alpukat dapat dipromosikan lebih luas, termasuk melalui media sosial dan platform e-commerce. Hal ini sejalan dengan tren era digital yang membuka peluang UMKM menjangkau pasar nasional dan internasional.
Dampak positif dari kegiatan ini sudah terlihat. Masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi untuk mencoba membuat brownies alpukat di rumah, sementara sebagian ibu rumah tangga menganggap kegiatan ini sebagai peluang usaha sampingan. “Pelatihan ini memberi kesempatan bagi kami untuk memiliki usaha baru selain bertani. Kami berharap bisa meningkatkan pendapatan keluarga secara berkelanjutan,” kata Salma Wardatun Nafisah, peserta workshop.
Meski demikian, tim KKN mencatat beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu workshop dan persaingan produk di desa. Oleh karena itu, perencanaan pelatihan lanjutan dan pendampingan secara berkelanjutan menjadi prioritas agar UMKM desa semakin mandiri dan mampu menghadapi persaingan pasar.
Dengan dukungan penuh Pemerintah Desa Mertasari, fasilitator, dan mahasiswa KKN, inovasi brownies alpukat diharapkan menjadi contoh nyata transformasi ekonomi berbasis komunitas, yang memadukan kreativitas warga, potensi lokal, dan teknologi digital untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
