
Purwokerto – Bagaimana filsafat memengaruhi cara manusia memaknai kehidupan? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan yang disampaikan Dr. Qasem Muhammadi, pakar filsafat Islam dari Republik Islam Iran, dalam kegiatan Guest Lecture Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Rabu, 23 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.30 WIB di Ruang Ujian Doktor Pascasarjana UIN Saizu tersebut menghadirkan Dr. Qasem Muhammadi dan Dr. Muh. Hanif, S.Ag., M.A., M.Pd. sebagai narasumber, dengan Dr. Novan Ardi Wiyani, M.Pd.I. sebagai moderator. Sekitar 80 peserta yang terdiri atas mahasiswa Pascasarjana dan dosen mengikuti kegiatan tersebut.
Dalam pemaparannya, Dr. Qasem mengangkat tema “Islamic Educational Reform and Modern Humanism: The Impact of Two Philosophical Trends”. Namun, substansi utama paparannya diarahkan pada persoalan filosofis mengenai bagaimana suatu pandangan tentang realitas dan Tuhan membentuk cara manusia memahami kehidupannya.

Dr. Qasem mengawali pembahasannya dengan mempertanyakan anggapan bahwa filsafat merupakan ilmu yang semata-mata teoritis dan abstrak. Menurutnya, filsafat justru merupakan sesuatu yang sangat nyata karena setiap tindakan, perilaku, dan pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan tertentu pada dasarnya selalu bertumpu pada seperangkat pandangan filosofis.
Atas dasar itu, Dr. Qasem kemudian memperkenalkan dua filsafat pokok yang menjadi titik perbandingan dalam paparannya, yakni filsafat tauhidik (Tawhidi Philosophy) dan filsafat materialistik (Materialistic Philosophy). Perbedaan kedua paradigma tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari dampaknya terhadap cara manusia memaknai kehidupan.
Filsafat Menentukan Cara Manusia Memaknai Kehidupan
Menurut Dr. Qasem, perbedaan fondasi filosofis tidak berhenti pada persoalan teori. Ia berpengaruh langsung terhadap bagaimana seseorang memahami keberadaan dirinya, menghadapi persoalan hidup, menentukan dasar moralitas, dan mengembangkan kehidupan spiritual.
Setidaknya terdapat empat dimensi yang ia gunakan untuk melihat pengaruh kedua paradigma tersebut, yaitu kebermaknaan hidup, kekuatan dalam menghadapi kesulitan, kehidupan yang beretika dan bermoral, serta pertumbuhan spiritual dan peningkatan derajat keimanan.
Kebermaknaan Hidup
Dimensi pertama adalah kebermaknaan hidup. Dr. Qasem mengajak peserta terlebih dahulu mempertanyakan apa yang dimaksud dengan kehidupan. Dalam paparannya, kehidupan tidak hanya dipahami sebagai kehidupan duniawi, tetapi juga mencakup kehidupan ukhrawi.
Dalam konteks kebermaknaan hidup, Dr. Qasem memperkenalkan konsep iṭmi’nān, yakni ketenteraman hati. Ia mengutip QS. al-Ra‘d ayat 28: “Alā bi-dhikri Allāhi taṭma’innu al-qulūb”—“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Ayat tersebut digunakan untuk menunjukkan hubungan antara iman, zikir, dan ketenteraman batin sebagai bagian dari makna kehidupan dalam perspektif tauhidik.
Sebaliknya, Dr. Qasem mempertanyakan bagaimana persoalan makna hidup dijelaskan apabila seseorang hanya mengakui realitas material. Menurutnya, ketika tidak terdapat keyakinan terhadap kebenaran di luar dunia material, persoalan mengenai tujuan dan makna kehidupan menjadi persoalan filosofis yang serius. Ia berkata:
“Jika Anda tidak percaya pada kebenaran di luar dunia material dalam filosofi Anda, Anda akan menghadapi masalah serius dalam hal makna hidup.”
Dalam presentasinya, ia mengutip pandangan Richard Dawkins mengenai alam semesta yang tidak memiliki rancangan dan tujuan sebagai ilustrasi atas persoalan tersebut. Richard Dawkins berkata “Alam semesta yang kita amati memiliki ciri-ciri yang seharusnya kita harapkan jika, pada dasarnya, tidak ada rancangan, tidak ada tujuan, tidak ada kejahatan dan kebaikan, tidak ada yang lain selain ketidakpedulian yang buta dan tanpa belas kasihan.”
Keyakinan kepada Tuhan dan Kekuatan Menghadapi Kesulitan
Dimensi kedua yang dibahas adalah kekuatan manusia dalam menghadapi kesulitan. Dr. Qasem menghubungkan persoalan tersebut dengan keyakinan terhadap Tuhan dan pandangan bahwa kehidupan memiliki tujuan.
Ia mengutip QS. al-Syarḥ ayat 5, “Fa-inna ma‘a al-‘usri yusrā”—“Karena sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan.”
Menurut Dr. Qasem, orang yang beriman kepada Tuhan memiliki kerangka pemaknaan yang memungkinkan dirinya melihat kesulitan bukan sebagai peristiwa yang sepenuhnya sulit. Tetapi bersamaan dengannya terdapat kemudahan. Ini merupakan doktrin yang diyakini seorang Muslim.
Dalam perspektif tersebut, keyakinan kepada Tuhan memberikan motivasi yang lebih tinggi daripada orang yang hanya berpegang pada materialism yang semata-mata yang berpijak pada hukum sebab-akibat.
Dasar Moralitas dalam Kehidupan Manusia
Persoalan ketiga yang diangkat Dr. Qasem adalah etika dan moralitas. Ia mengajukan pertanyaan yang bersifat filosofis: mengapa seorang ateis harus menjalani kehidupan yang bermoral?
Pertanyaan tersebut ia hubungkan dengan sebuah survei terhadap anak-anak muda di London. Pertanyaan yang sama kemudian diperluas dengan mempertanyakan bagaimana posisi orang yang beriman dalam menjalani kehidupan moral.
Orang-orang di London dalam sebuah survei mengenai pertanyaan “Jika tidak ada orang atau polisi yang tidak melihat sama sekali posisi seseorang yang Bersama dengan Wanita (cantik), apakah kamu akan memperkosa perempuan tersebut?” Hasil survei menunjukan bahwa 93% orang-orang di London, yang tidak memegang keyakinan Ketuhanan (Tuhan mengawasi), menjawab mereka akan memperkosa.
Dalam perspektif yang dipaparkannya, keyakinan kepada Tuhan memberikan dasar kesadaran bahwa manusia senantiasa berada dalam pengawasan-Nya. Dr. Qasem mengutip QS. al-‘Alaq ayat 14: “Alam ya‘lam bi-anna Allāha yarā”—“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”
Dengan demikian, moralitas dalam perspektif tauhidik tidak hanya berkaitan dengan aturan sosial atau konsekuensi hukum, tetapi juga dengan kesadaran transendental bahwa setiap tindakan manusia berada dalam pengetahuan Tuhan.
Tauhid dan Transformasi Cara Memandang Diri
Dimensi keempat adalah pertumbuhan spiritual dan peningkatan derajat keimanan. Dr. Qasem mengaitkannya dengan konsep tauhid, terutama keyakinan bahwa Tuhan adalah Esa.
Pembahasan ini kemudian dikaitkan dengan filsafat al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah. Dalam perspektif yang disampaikan Dr. Qasem, kesadaran tauhid memiliki konsekuensi terhadap cara manusia memahami dirinya sendiri. Manusia tidak dipandang sebagai wujud yang sepenuhnya mandiri, melainkan sebagai bagian dari realitas yang keberadaannya bergantung kepada Tuhan.
Kesadaran tersebut memiliki konsekuensi etis. Ketika seseorang benar-benar menghayati keyakinan tersebut, menurut Dr. Qasem, ia tidak lagi mudah terjebak dalam kesombongan dan sikap merasa dirinya sebagai pusat keberadaan.
Cara pandang tersebut juga mengubah hubungan seseorang dengan manusia lain. Orang yang memandang seluruh alam sebagai manifestasi Tuhan akan memiliki cara berbeda dalam memperlakukan sesama dan berinteraksi dengan lingkungan. Ia tidak melihat dirinya maupun orang lain sebagai realitas yang sepenuhnya berdiri sendiri.
Dari keseluruhan pemaparan tersebut, Dr. Qasem Muhammadi menunjukkan bahwa filsafat bukan sekadar perdebatan abstrak mengenai konsep-konsep metafisik. Pilihan terhadap suatu paradigma filosofis memiliki konsekuensi terhadap cara manusia memahami kehidupan, menghadapi kesulitan, menentukan dasar moralitas, serta mengembangkan hubungan spiritual dengan Tuhan.
Dalam kerangka yang ia tawarkan, filsafat tauhidik menempatkan Tuhan sebagai pusat realitas dan memberikan orientasi transendental terhadap kehidupan manusia. Sementara itu, filsafat materialistik diposisikan sebagai paradigma yang menjadikan realitas material sebagai titik pijak utama sehingga menghadirkan pertanyaan filosofis tersendiri mengenai makna, tujuan, dan dasar moral kehidupan.
Paparan tersebut menjadikan Guest Lecture Dr. Qasem Muhammadi bukan sekadar forum pengenalan pemikiran filsafat Islam, tetapi juga ruang refleksi mengenai pertanyaan-pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan manusia: untuk apa manusia hidup, dari mana manusia memperoleh kekuatan ketika menghadapi penderitaan, mengapa manusia harus bermoral, dan bagaimana keyakinan kepada Tuhan mengubah cara seseorang memandang dirinya serta dunia di sekitarnya.
