
PURWOKERTO — Pascasarjana Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menggelar International Guest Lecture – Public Lecture Series bekerja sama dengan Eurasia Foundation from Asia, Sabtu, 26 September 2026. Mengangkat tema besar “Multiculturalism and Literacy in the Asian Community”, kegiatan kali ini membahas “Islam in Cinema: Between Gender and Religion.”
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 sampai 11.30 WIB di Ruang Ujian Doktor Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto tersebut menghadirkan Haryadi, Ph.D., dosen Universitas Jenderal Soedirman, sebagai guest speaker. Diskusi dipandu oleh Dr. Ellen Prima, M.A., dosen Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, sebagai moderator.
Dalam paparannya, Haryadi mengajak peserta melihat film tidak hanya sebagai produk hiburan, tetapi juga sebagai medium yang membentuk cara masyarakat memahami realitas. Menurut materi yang disampaikan, agama dan film memiliki titik persinggungan karena keduanya sama-sama membangun narasi serta dapat menghasilkan suasana, motivasi, dan orientasi tindakan tertentu. Film bahkan dapat berfungsi sebagai “models of” realitas—cara memahami dunia—sekaligus “models for” realitas, yakni sumber nilai yang memberi orientasi terhadap tindakan manusia.
Pembahasan kemudian diarahkan pada persoalan representasi gender dalam film. Haryadi menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan yang tampil di layar tidak selalu dapat dibaca sebagai representasi individu nyata, melainkan juga sebagai tipologi dan konstruksi gagasan tentang gender. Dalam industri sinema, persoalan tersebut antara lain terlihat dari keterwakilan perempuan di balik produksi film maupun kecenderungan membingkai karakter perempuan ke dalam kategori-kategori tertentu yang sudah akrab dengan narasi populer.

Kesalehan dalam Film Tidak Selalu Berarti Kesetaraan
Salah satu perhatian utama dalam kuliah tersebut adalah perubahan representasi perempuan dalam film-film bertema Islam. Karakter perempuan salehah pada sejumlah film kontemporer memang dapat ditampilkan lebih aktif dan mandiri. Namun, materi kuliah menunjukkan bahwa pada saat yang sama kehidupan mereka masih kerap dikonstruksikan bergantung pada figur laki-laki yang digambarkan lebih kuat, lebih berpengetahuan, lebih mapan, atau lebih saleh. Haryadi juga menunjukkan adanya pergeseran dari narasi persoalan sosial-politik umat menuju tema-tema kesalehan dan gaya hidup personal dalam sebagian film Islam.
Persoalan serupa tampak dalam konstruksi perempuan religius pada film arus utama. Perempuan sering ditempatkan dalam peran domestik sebagai istri atau ibu yang sabar, patuh, dan rela berkorban. Identitas religius perempuan juga tidak jarang dipadatkan ke dalam simbol visual, misalnya perubahan cara berpakaian yang diposisikan sebagai tanda pertobatan atau akhir kehidupan yang dianggap lebih baik.
Pada sisi lain, konstruksi maskulinitas keagamaan juga mendapat perhatian. Figur laki-laki dalam sejumlah film religius kerap tampil sebagai pusat otoritas moral: memiliki pengetahuan agama, bijaksana, serta menjadi pihak yang menentukan keputusan penting dalam keluarga. Pola representasi seperti ini, menurut materi Haryadi, dapat ikut mempertahankan relasi hierarkis dalam institusi keluarga ketika otoritas moral secara dominan dilekatkan pada laki-laki.
Dari Film Horor hingga Kritik terhadap Otoritas Agama
Haryadi kemudian memperlihatkan bahwa hubungan agama dan gender muncul secara berbeda dalam berbagai genre. Dalam film horor, misalnya, tubuh perempuan sering menjadi arena perjumpaan antara supernaturalitas dan agama. Data yang ditampilkan menyebutkan bahwa 338 dari 559 film horor Indonesia periode 1970–2019 menampilkan perempuan sebagai karakter utama. Dalam sejumlah film era Orde Baru dan periode awal sesudahnya, figur laki-laki religius seperti ustaz atau pendeta kerap dihadirkan untuk mengusir kekuatan supernatural atau menyembuhkan karakter perempuan.
Pada film drama urban, agama dapat tampil sebagai bagian dari mekanisme pendisiplinan moral. Materi menunjukkan bagaimana konsekuensi sosial atas persoalan seksualitas dapat dibebankan secara berbeda kepada karakter perempuan dan laki-laki. Dengan demikian, film bukan sekadar merekam norma sosial, tetapi juga menjadi ruang tempat batas-batas moral, agama, gender, dan kekuasaan dinegosiasikan.
Namun, perkembangan sinema kontemporer juga memperlihatkan arus kritik. Sejumlah film mulai menampilkan perempuan bukan hanya sebagai penerima aturan, melainkan sebagai subjek yang mempertanyakan otoritas dan ketimpangan dalam penerapan norma agama. Film-film kritis juga mulai membicarakan praktik seperti poligami dari sudut pandang pengalaman dan konsekuensi psikologis yang dialami perempuan, berbeda dari kecenderungan narasi yang mengidealisasikannya atas nama kesalehan.
Salah satu contoh yang dibicarakan Haryadi adalah Harlot’s Prayer, melalui karakter Nidah Kirani. Kisah tersebut digunakan untuk menunjukkan bagaimana otoritas keagamaan dapat dipersoalkan ketika agama disalahgunakan untuk kepentingan kuasa, manipulasi, maupun pembungkaman suara kritis. Materi tersebut menyoroti bagaimana individu yang mencoba menantang wacana dominan justru dapat mengalami pengucilan sosial.
Sinema sebagai Ruang Membaca Perubahan Sosial
Di bagian akhir, Haryadi memetakan dua kecenderungan besar dalam sinema Indonesia kontemporer. Arus utama masih banyak mempertahankan konstruksi peran gender tradisional melalui narasi kesalehan religius, sementara arus kritis dan independen semakin berani membongkar bias patriarkal yang bekerja melalui institusi maupun pemahaman keagamaan di tengah masyarakat.
Melalui perspektif tersebut, International Guest Lecture ini memperlihatkan bahwa sinema dapat menjadi pintu masuk penting untuk membaca perubahan masyarakat. Film tidak hanya berbicara tentang agama atau gender secara terpisah, tetapi menunjukkan bagaimana keduanya bertemu dengan persoalan kekuasaan, moralitas, tubuh, keluarga, dan perubahan sosial.
Penyelenggaraan Public Lecture Series ini sekaligus memperkuat komitmen Pascasarjana UIN Saizu dalam menghadirkan ruang akademik yang mempertemukan kajian keislaman dengan isu-isu multidisipliner dan perkembangan masyarakat kontemporer. Melalui kolaborasi dengan Eurasia Foundation from Asia, forum tersebut diharapkan terus memperluas dialog akademik dan literasi lintas disiplin di tingkat Asia.
