Purwokerto – Rendahnya minat baca di Indonesia sempat menjadi sorotan internasional. Pada 2016, survei Central Connecticut State University menempatkan Indonesia di peringkat kedua terendah dari 61 negara. Di tengah kondisi ini, Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) hadir sebagai inovasi pendidikan yang tidak hanya menumbuhkan minat baca, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui literasi agama dan industri kreatif.
RKWK didirikan oleh Heru Kurniawan, dosen IAIN Purwokerto, bersama istrinya pada 2013. Awalnya, kegiatan diadakan di teras rumah dengan lima anak tetangga sebagai peserta, melalui kegiatan storytelling dan membaca. Kini, RKWK menampung lebih dari 70 anak dari berbagai latar belakang, dibantu 15 relawan yang sebagian besar mahasiswa.
RKWK memiliki beberapa unit kegiatan: RKWK sendiri untuk pendidikan kreatif anak gratis; Wadas Kelir Studio, produksi buku anak, film, dan kerajinan; Wadas Kelir Reading House, perpustakaan masyarakat; Creative Wadas Kelir Bookstore, menjual hasil karya anak dan relawan; serta Creative Wadas Kelir Tourism Village, desa wisata edukatif yang sedang dikembangkan.
Aktivitas RKWK dilakukan harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan. Anak-anak mengikuti pelatihan menulis cerita, puisi, musik, tari, mewarnai, serta permainan logika dan matematika. Hasil karya mereka telah diterbitkan oleh Gramedia, Penebar Swadaya, dan Rosda Karya, serta memenangkan lomba nasional, seperti Lomba Menulis Puisi Kementerian Pendidikan dan Budaya 2013, dan Short Story Competition Tupperware 2014.
Selain anak-anak, relawan RKWK juga diberdayakan. Dana dari penjualan buku dan karya kreatif digunakan untuk kesejahteraan 22 relawan, mendukung biaya pendidikan hingga jenjang master dan doktor. Relawan memperoleh pengalaman mengajar, menulis, dan keterampilan kewirausahaan.
RKWK juga membangun jaringan dengan berbagai lembaga, mulai dari IAIN Purwokerto, penerbit nasional, BNI, KPK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hingga organisasi pemuda internasional. Prestasi ini membuat RKWK mendapat berbagai penghargaan, seperti Perpustakaan Kreatif Terbaik dari Kemenristekdikti 2017, dan pengakuan sebagai Komunitas Literasi Anak Nasional dari Gramedia 2018.
Yang membedakan RKWK adalah pendekatan literasi religius inklusif. Anak-anak dari berbagai agama belajar bersama, menghargai perbedaan, dan mengembangkan kreativitas secara adil. Konsep ini mendukung literasi agama sebagai sarana membentuk warga yang toleran dan berpengetahuan luas.
Dengan model ini, RKWK berhasil meningkatkan minat baca, kreativitas anak, dan kesejahteraan relawan serta masyarakat sekitar. Rumah Kreatif Wadas Kelir kini menjadi destinasi studi banding bagi lembaga literasi dan taman kanak-kanak dari berbagai daerah di Indonesia, menjadi contoh nyata bagaimana literasi dan kreativitas bisa mendorong pemberdayaan masyarakat.
