Pascasarjana Promosikan Doktor melalui Disertasi Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif Living Hadis

PURWOKERTO—Pascasarjana Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto mempromosikan Waliko sebagai doktor pada Rabu, 22 Juli 2026 di Ruang Ujian Doktor melalui disertasi yang mengkaji pembentukan perilaku keagamaan anak usia dini dengan pendekatan living hadis
Dalam forum akademik tersebut, promovendus mempertahankan disertasi berjudul “Pembentukan Perilaku Keagamaan Anak Usia Dini di RA Istiqlal Jakarta dan KB Khalifah Purwokerto: Studi Living Hadis.”
Ujian promosi doktor menghadirkan tujuh penguji, yaitu Prof. Dr. Suwito, M.Ag.; Dr. Novan Ardi Wiyani, M.Pd.I.; Prof. Dr. Suparjo, M.A.; Prof. Dr. Naqiyah, M.Ag.; Prof. Dr. Khusnul Khotimah, M.Ag.; Dr. Ali Muhdi, M.Ag.; dan Dr. Fakhri Hidayat, M.Pd.I.
Isi Disertasi
Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh fenomena dekadensi moral dan meningkatnya kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan perilaku keagamaan anak usia dini belum sepenuhnya berlangsung secara optimal.
Pendidikan agama selama ini masih cenderung menekankan aspek kognitif dan hafalan teks keagamaan, termasuk hadis Nabi, tanpa selalu diikuti proses pembiasaan yang mampu membentuk perilaku nyata anak. Padahal, masa anak usia dini merupakan fase golden age yang sangat menentukan perkembangan karakter dan religiositas seseorang dalam jangka panjang.
Atas dasar persoalan tersebut, penelitian Waliko menawarkan pendekatan living hadis sebagai model pendidikan agama yang lebih kontekstual dan aplikatif. Dalam pendekatan ini, hadis tidak hanya diposisikan sebagai teks yang harus dihafalkan atau dipahami secara kognitif, tetapi sebagai nilai yang dihidupi, dialami, diteladani, dan dipraktikkan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian bertujuan menganalisis proses pembentukan perilaku keagamaan anak usia dini melalui praktik living hadis di Raudhatul Athfal Istiqlal Jakarta dan Kelompok Bermain Khalifah Purwokerto. Penelitian juga menelaah peran guru dan lembaga sebagai agen dominan, faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan perilaku keagamaan, serta tantangan dan peluang dalam penerapan pendekatan tersebut.
Disertasi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru dan pengelola lembaga, serta studi dokumentasi terhadap kurikulum dan praktik pembelajaran yang diterapkan di kedua lembaga pendidikan.
Data penelitian kemudian dianalisis secara tematik menggunakan teori konstruksi sosial Pierre Bourdieu, khususnya konsep habitus, modal budaya, modal sosial, modal simbolik, serta arena pendidikan sebagai ruang reproduksi nilai-nilai keagamaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan perilaku keagamaan anak usia dini di kedua lembaga berlangsung melalui proses habituasi yang sistematis, terencana, dan berkelanjutan. Hadis dihadirkan sebagai praktik hidup dalam keseharian anak, bukan sekadar sebagai materi pembelajaran yang menuntut pemahaman secara kognitif.
Anak-anak menghayati nilai-nilai hadis melalui respons afektif, tindakan meniru, keteladanan guru, serta pembiasaan perilaku keagamaan dalam berbagai interaksi sosial. Dalam proses tersebut, guru dan lembaga pendidikan berperan sebagai agen dominan yang memanfaatkan modal budaya dan simbolik untuk membangun disposisi keagamaan anak.
RA Istiqlal Jakarta memperkuat praktik living hadis melalui legitimasi simbolik Masjid Nasional Istiqlal sebagai arena religius. Lingkungan masjid, tradisi kelembagaan, serta aktivitas keagamaan menjadi modal penting dalam membentuk pengalaman religius anak secara langsung.
Sementara itu, KB Khalifah Purwokerto mengintegrasikan nilai tauhid dan entrepreneurship sebagai arena pembentukan perilaku religius yang kontekstual. Nilai keagamaan tidak hanya diperkenalkan melalui kegiatan ibadah, tetapi juga melalui pembentukan sikap mandiri, tanggung jawab, disiplin, kreativitas, dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu kontribusi akademik utama penelitian ini adalah lahirnya konsep habitus hadis. Konsep tersebut merujuk pada disposisi keagamaan anak usia dini yang terbentuk secara alamiah melalui nilai-nilai hadis yang terus-menerus dihidupi, dicontohkan, diteladani, dan dibiasakan sejak usia dini.
“Penelitian ini melahirkan konsep habitus hadis, yaitu disposisi keagamaan anak usia dini yang terbentuk secara alamiah melalui penghayatan nilai-nilai hadis yang dihidupi, diteladani, dan dibiasakan
sejak usia dini.” Tegas Dr. Waliko
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan perilaku keagamaan anak tidak cukup dilakukan melalui hafalan dan penyampaian pengetahuan agama. Pendidikan keagamaan yang efektif memerlukan lingkungan yang konsisten, keteladanan pendidik, pembiasaan perilaku, serta pengalaman sosial yang memungkinkan anak mengalami nilai agama secara langsung.
Disertasi Waliko memberikan kontribusi penting bagi pengembangan pendidikan Islam anak usia dini dengan mempertemukan kajian hadis, pendidikan, dan teori sosial. Pendekatan living hadis yang ditawarkan membuka ruang bagi pengembangan model pembelajaran agama yang lebih ramah anak, kontekstual, aplikatif, dan berorientasi pada pembentukan perilaku.
Promosi doktor ini semakin menegaskan komitmen Pascasarjana UIN SAIZU Purwokerto dalam melahirkan doktor yang mampu mengembangkan riset interdisipliner, menghadirkan inovasi dalam pendidikan Islam, serta memberikan solusi akademik terhadap persoalan moral dan keagamaan masyarakat. Melalui riset-riset unggul dan kontekstual, Pascasarjana UIN SAIZU terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam yang transformatif, humanis, dan berdampak nyata bagi masa depan generasi bangsa.